SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI (1)

  1. Periodisasi Perkembangan Sosiologi

Sebagaimana sudah kita ketahui bahwa semua cabang ilmu pengetahuan yang ada pada saat ini sebelumnya semuanya bermuara pada filsafat sehingga filsafat disebut sebagai induknya ilmu. Pada saat itu persoalan-persoalan yang dikaji secara filsafat mencakup persoalan ketuhanan, astrologi, astronomi, politik, hukum, ekonomi, ketatanegaraan, dan lain-lain. Perkembangan selanjutnya setiap cabang pengetahuan berusaha melepaskan diri mengingat bidang kajian mereka menjadi semakin luas. Demikian juga dengan ilmu sosiologi. Ilmu Sosiologi ini memisahkan diri dari filsafat pada akhir abad 18 dan awal abad ke-19.

Peristiwa revolusi politik yang diwakili oleh Revolusi Perancis pada tahun 1789 dan berlanjut sampai abad ke-19 yang memunculkan perubahan pada tatanan sosial telah menghadapkan masyarakat Eropa pada kondisi yang serba chaos dan disorder. Sementara itu di sisi lain mereka juga berharap bahwa kedamaian dan tatanan sosial yang selama ini sudah mapan bias kembali lagi. Dalam kondisi seperti, inilah maka para pemikir berpendapat bahwa sudah saatnya mereka harus mencari fondasi yang baru bagi tatanan sosial baru yang ada. Para pemikir Eropa abad ke-18 mengidentifikasi sejumlah peristiwa yang dianggap sebagai ancaman atas apa yang selama ini dianggap oleh masyarakat sebagai kebenaran atau kenyataan tersebut. Peter Berger mengidentifikasi disintegrasi masyarakat, khususnya disintegrasi dalam agama Kristen, sebagai peristiwa yang melatarbelakangi munculnya sosiologi. Sementara L. Layendecker mengaitkan kelahiran sosiologi dengan (a) pertumbuhan kapitalisme pada akhir abad ke-18. (b) perubahan bidang sosial dan politik, (c) perubahan yang ada hubungannya dengan reformasi yang dibawa oleh Martin Luther. (d) meningkatnya paham individualisme, (e) lahirnya ilmu pengetahuan modern, (f) berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri, (g) revolusi industri, dan (h) revolusi Perancis. Sedangkan Ritzer berpendapat bahwa kelahiran sosiologi erat berhubungan dengan (a) revolusi politik, (b) revolusi industri dan munculnya kapitalisme, (c) munculnya sosialisme, (d) urbanisasi, (e) perubahan di bidang keagamaan, dan (f) perubahan dalam bidang ilmu (Sunarto, 2000: 1). Untuk dapat mengerti peristiwa lepasnya sosiologi dari filsafat,. Perkembangan sosiologi melewati empat periode yang meliputi periode a) pra-sosiologi, b) peralihan ilmu sosiologi abad 18, c) kelahiran ilmu sosiologi abad 19, dan d) periode perkembangan ilmu sosiologi (Ahmadi, 1983: 11). Pada periode pra-sosiologi yaitu sebelum sosiologi menjadi ilmu yang berdiri sendiri, sudah banyak pemikir-pemikir (dari ilmu filsafat) yang mengkaji tentang masyarakat, misalnya Aristoteles dengan bukunya yang berjudul ‘Republica’ dan Plato dengan bukunya yang berjudul ‘Politeia’. Mereka dalam mengkaji masyarakat biasanya dikaitkan dengan kajian tentang Negara. Oleh karena itu, kajian tentang masyarakat selanjutnya banyak dilakukan oleh pemikir-pemikir dari bidang politik. Pemikir politik Thomas Hobbes (1588-1679) dengan slogannya yang berbunyi ‘homo homini lupus’ (manusia merupakan serigala terhadap manusia lainnya) berusaha menjelaskan bahwa individu-individu itu selalu berperang sehingga tidak terbentuk suasana tenang. Untuk mencapai ketenangan maka dibuatlah kesepakatan-kesepakatan di antara mereka. Pemikir lainnya John Locke (1632-1704) dengan idenya tentang masyarakat yang dicita-citakan berpendapat bahwa sudah kodratnya manusia dilahirkan mempunyai sejumlah hak. Akan tetapi kenyataannya hak-hak tersebut sering kali tidak dimilikinya karena ada hubungan yang timpang antara penguasa dan yang dikuasai. Untuk mengatasi ketimpangan ini maka dibuatlah kesepakatan di antara mereka. Di lain pihak Jean Jacques Rousseau (1712-1778) berpendapat bahwa individu itu dilahirkan dalam keadaan bebas. Akan tetapi kenyataannya sering kali individu tersebut terbelenggu oleh penguasa. Untuk mendapatkan kebebasannya lagi maka dibuatlah kesepakatan di antara mereka. Dari ide-ide para pemikir politik tersebut di atas nampak bahwa ide tentang masyarakat sudah dimasukkan dalam kajian mereka. Pada periode peralihan ilmu sosiologi abad 18, terjadi proses timbul tenggelamnya ilmu sosiologi. Pada masa itu terjadi perubahan masyarakat yang sangat besar dan cepat, terutama perubahan pada bidang ekonomi dan teknologi. Pada masa itu juga berkembang berbagai isme, yaitu industrialisme dan kapitalisme, positivisme, dan darwinisme. Isme-isme ini sangat mempengaruhi perkembangan pemikiran sosiologi pada masa itu. Selanjutnya pada periode kelahiran ilmu sosiologi abad 19, sebagai bagian dari ilmu sosial maka sosiologi bersama-sama dengan ilmu social lainnya menjadikan masyarakat sebagai obyek kajiannya, akan tetapi dengan sudut pandangnya sendiri-sendiri. Pada masa itu sosiologi cenderung melihat masyarakat secara positif sehingga lahirlah paham positivisme dalam sosiologi yang dimotori oleh August Comte.

About these ads

~ oleh avins pada 18 November 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: