PCMAV 1.9

•18 November 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pada posting pertama mengenai PCMAV ini, saya akan sharing PCMAV versi 1.9. Bagi penggemar PCMAV yang mau download, klik link dibawah ini:

PCMAV 1.9

PCMAV 1.9 Build 1

PCMAV 1.9 Plus CLAMAV

SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI (1)

•18 November 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar
  1. Periodisasi Perkembangan Sosiologi

Sebagaimana sudah kita ketahui bahwa semua cabang ilmu pengetahuan yang ada pada saat ini sebelumnya semuanya bermuara pada filsafat sehingga filsafat disebut sebagai induknya ilmu. Pada saat itu persoalan-persoalan yang dikaji secara filsafat mencakup persoalan ketuhanan, astrologi, astronomi, politik, hukum, ekonomi, ketatanegaraan, dan lain-lain. Perkembangan selanjutnya setiap cabang pengetahuan berusaha melepaskan diri mengingat bidang kajian mereka menjadi semakin luas. Demikian juga dengan ilmu sosiologi. Ilmu Sosiologi ini memisahkan diri dari filsafat pada akhir abad 18 dan awal abad ke-19.

Peristiwa revolusi politik yang diwakili oleh Revolusi Perancis pada tahun 1789 dan berlanjut sampai abad ke-19 yang memunculkan perubahan pada tatanan sosial telah menghadapkan masyarakat Eropa pada kondisi yang serba chaos dan disorder. Sementara itu di sisi lain mereka juga berharap bahwa kedamaian dan tatanan sosial yang selama ini sudah mapan bias kembali lagi. Dalam kondisi seperti, inilah maka para pemikir berpendapat bahwa sudah saatnya mereka harus mencari fondasi yang baru bagi tatanan sosial baru yang ada. Para pemikir Eropa abad ke-18 mengidentifikasi sejumlah peristiwa yang dianggap sebagai ancaman atas apa yang selama ini dianggap oleh masyarakat sebagai kebenaran atau kenyataan tersebut. Peter Berger mengidentifikasi disintegrasi masyarakat, khususnya disintegrasi dalam agama Kristen, sebagai peristiwa yang melatarbelakangi munculnya sosiologi. Sementara L. Layendecker mengaitkan kelahiran sosiologi dengan (a) pertumbuhan kapitalisme pada akhir abad ke-18. (b) perubahan bidang sosial dan politik, (c) perubahan yang ada hubungannya dengan reformasi yang dibawa oleh Martin Luther. (d) meningkatnya paham individualisme, (e) lahirnya ilmu pengetahuan modern, (f) berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri, (g) revolusi industri, dan (h) revolusi Perancis. Sedangkan Ritzer berpendapat bahwa kelahiran sosiologi erat berhubungan dengan (a) revolusi politik, (b) revolusi industri dan munculnya kapitalisme, (c) munculnya sosialisme, (d) urbanisasi, (e) perubahan di bidang keagamaan, dan (f) perubahan dalam bidang ilmu (Sunarto, 2000: 1). Untuk dapat mengerti peristiwa lepasnya sosiologi dari filsafat,. Perkembangan sosiologi melewati empat periode yang meliputi periode a) pra-sosiologi, b) peralihan ilmu sosiologi abad 18, c) kelahiran ilmu sosiologi abad 19, dan d) periode perkembangan ilmu sosiologi (Ahmadi, 1983: 11). Pada periode pra-sosiologi yaitu sebelum sosiologi menjadi ilmu yang berdiri sendiri, sudah banyak pemikir-pemikir (dari ilmu filsafat) yang mengkaji tentang masyarakat, misalnya Aristoteles dengan bukunya yang berjudul ‘Republica’ dan Plato dengan bukunya yang berjudul ‘Politeia’. Mereka dalam mengkaji masyarakat biasanya dikaitkan dengan kajian tentang Negara. Oleh karena itu, kajian tentang masyarakat selanjutnya banyak dilakukan oleh pemikir-pemikir dari bidang politik. Pemikir politik Thomas Hobbes (1588-1679) dengan slogannya yang berbunyi ‘homo homini lupus’ (manusia merupakan serigala terhadap manusia lainnya) berusaha menjelaskan bahwa individu-individu itu selalu berperang sehingga tidak terbentuk suasana tenang. Untuk mencapai ketenangan maka dibuatlah kesepakatan-kesepakatan di antara mereka. Pemikir lainnya John Locke (1632-1704) dengan idenya tentang masyarakat yang dicita-citakan berpendapat bahwa sudah kodratnya manusia dilahirkan mempunyai sejumlah hak. Akan tetapi kenyataannya hak-hak tersebut sering kali tidak dimilikinya karena ada hubungan yang timpang antara penguasa dan yang dikuasai. Untuk mengatasi ketimpangan ini maka dibuatlah kesepakatan di antara mereka. Di lain pihak Jean Jacques Rousseau (1712-1778) berpendapat bahwa individu itu dilahirkan dalam keadaan bebas. Akan tetapi kenyataannya sering kali individu tersebut terbelenggu oleh penguasa. Untuk mendapatkan kebebasannya lagi maka dibuatlah kesepakatan di antara mereka. Dari ide-ide para pemikir politik tersebut di atas nampak bahwa ide tentang masyarakat sudah dimasukkan dalam kajian mereka. Pada periode peralihan ilmu sosiologi abad 18, terjadi proses timbul tenggelamnya ilmu sosiologi. Pada masa itu terjadi perubahan masyarakat yang sangat besar dan cepat, terutama perubahan pada bidang ekonomi dan teknologi. Pada masa itu juga berkembang berbagai isme, yaitu industrialisme dan kapitalisme, positivisme, dan darwinisme. Isme-isme ini sangat mempengaruhi perkembangan pemikiran sosiologi pada masa itu. Selanjutnya pada periode kelahiran ilmu sosiologi abad 19, sebagai bagian dari ilmu sosial maka sosiologi bersama-sama dengan ilmu social lainnya menjadikan masyarakat sebagai obyek kajiannya, akan tetapi dengan sudut pandangnya sendiri-sendiri. Pada masa itu sosiologi cenderung melihat masyarakat secara positif sehingga lahirlah paham positivisme dalam sosiologi yang dimotori oleh August Comte.

APA ITU SOSIOLOGI

•18 November 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sosiologi berasal dari bahasa latin socius yang mempunyai arti kawan/teman, dan logos yang berarti ilmu pengetahuan/pikiran. Jadi, dilihat dari akar katanya sosiologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang pergaulan hidup socius dengan socius atau teman dengan teman, yaitu hubungan antara seorang dengan seorang, perseorangan dengan golongan, atau golongan dengan golongan (Ahmadi, 1984: 7). Karena pergaulan hidup manusia disebut juga masyarakat maka sosiologi diartikan juga sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat manusia dan tingkah laku manusia di beberapa kelompok yang membentuk masyarakat (Kornblum, 1988: 5). Selain dua definisi di atas masih banyak terdapat definisi lainnya, dimana definisi-definisi tersebut mempunyai beberapa perbedaan dalam penjabarannya. Walaupun demikian dari sekian definisi tersebut masih bias kita tarik benang merah sehingga bisa kita temukan pokok pikiran yang sama, yaitu bahwa sosiologi itu adalah 1) merupakan hidup bermasyarakat dalam arti yang luas, 2) perkembangan masyarakat di dalam segala aspeknya, dan 3) hubungan antarmanusia dengan manusia lainnya dalam segala aspeknya. Dari rumusan ini paling tidak kita bisa menemukan adanya dua unsur pokok dari sosiologi, yaitu 1) adanya manusia, dan 2) adanya hubungan di dalam suatu wadah hubungan yang disebut dengan masyarakat (Ahmadi, 1984: 10).

Sosiologi dianggap sebagai ilmu yang tidak mudah karena obyeknya yang berupa masyarakat (dalam arti kata hubungan-hubungan atau jaringanjaringan) bersifat abstrak. Di samping itu kita menjadi tidak mudah untuk merumuskan masalah sosiologis, karena dalam sosiologi sering kali tidak kita jumpai adanya kata-kata ‘ada’ dan ‘pasti’. Hal lainnya lagi adalah bahwa sangat sulit untuk bisa menjaga objektivitas kajian sosiologi, karena peneliti/pengamat berada di dalam subyek kajiannya. Bias-bias subjektivitas peneliti dalam melakukan pengamatan, penafsiran, dan analisis atas suatu fenomena sosial sangat mungkin sekali terjadi. Misalnya Anda sebagai sosiolog sedang meneliti tentang perilaku seksual kelompok elit metropolitan di mana selama melakukan pengamatan Anda selalu memasukkan opini negatif pribadi terhadap perilaku seksual tersebut karena tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hidup Anda. Tindakan Anda ini tentu saja sangat mengganggu tingkat objektivitas hasil penelitian Anda. Selanjutnya masyarakat sebagai kajian sosiologi bersifat kompleks, terutama masyarakat modern, sehingga ada anggapan sangat sulit bagi sosiolog untuk mengkajinya. Untuk menjawab semua permasalahan tersebut maka terdapat beberapa hal yang harus sangat diperhatikan yaitu bahwa seorang peneliti/pengamat harus bisa bersikap tidak memihak, tidak terburu-buru dalam mencari bukti-bukti/informasi, dan bersikap curiga terhadap informasi-informasi yang bukti-buktinya tidak begitu jelas.